
Zaman Now seperti sekarang banyak sebagian dari kita yang suka mengeluh dengan keadaan dan mengumpat. Mudah sekali tersulut emosi, sulit tersentuh untuk membantu orang lain, mudah tersinggung, dan suka mengungkit kebaikan kita terhadap orang lain, yang tanpa kita sadari bisa menyakiti perasaan orang lain. Ini menandakan bahwa hati sedang tidak baik-baik saja. Untuk itu perlu kita latih kepekaan hati agar tidak menyakiti diri sendiri dan orang lain.
1. Belajar Sabar
Kalimat
ini tentu sering sekali kita dengar tapi cukup sulit untuk dilakukan.
Saat kita mencoba menjauhi apa yang dilarang oleh Tuhan, kita dapat
mengkelompkkannya sebagai sabar dalam menjauhi perbuatan maksiat. Sabar
berlaku dalam menjalankan ketaatan. Sabar saat menjalankan ibadah, sabar
saat menerima cobaan ataupun sabar dalam menjalani pekerjaan
sehari-hari. Misalkan seseorang bersedekah, ia pun harus sabar agar
tidak riya dan hatinya pun harus ikhlas untuk memberi.
Adapun sabar mengajarkan kita untuk tidak menyakiti diri sendiri
maupun orang lain, mengajarkan kita untuk terus taat, mengajarkan kita
untuk melawan hawa nafsu yang dapat mematikan hati kita, dan mengajarkan
kita untuk terus berlapang dada.
2. Belajar Bersyukur
Bersyukur
bisa dibilang sebagai ungkapan terimakasih. Setiap hari layaknya kita
harus selalu bersyukur dengan apa yang telah kita terima, tidak peduli
besar atau kecilnya sebuah pemberian. Lalu kepada siapa kita harus
bersyukur ? Pertama, kita harus bersyukur kepada Sang Pencipta yang
telah memberikan kita kehidupan. Jika kita terus bersyukur kepada Sang
Pencipta, maka Allah akan menambah dan terus menambah kenikmatan untuk
kita. Sulit bersyukur membuat kita menjadi sombong dan keras hati.
Menatap ke atas akan membuat seseorang menjadi kufur nikmat, sementara
jika kita menatap ke bawah membuat kita menyadari bahwa kita masih lebih
baik dari apa yang kita lihat. Rasa syukur mengajarkan kita untuk peka
terhadap sesama yang tidak lebih beruntung dari kita. Dengan begitu,
seseorang akan sering berbagi, menjadi seseorang yang mau dengan tulus
dimintai bantuan, dan menjadi seseorang yang rendah hati.
3. Belajar Ikhlas
Ikhlas,
mungkin sebagian dari kita mudah melakukannya, tetapi di dalam hati
masih ingin mengharapkan imbalan sebagai rasa terimakasih dan menyimpan
riya. Sangat sulit untuk menolak suara hati karena tidak seperti tubuh
yang pandai berakting. Hati memiliki sifat yang sangat jujur.
Ikhlas bertujuan untuk memurnikan perbuatan kita agar terhindar dari
rasa pamrih dan riya. Ikhlas mendekatkan diri pada Sang Pencipta.
Perbuatan yang kurang ikhlas menginginkan pelakunya tampak baik di depan
orang lain. Hati yang sering merasa tidak bisa ikhlas melakukan
kebaikan akan sulit merasa peka karena ia hanya ingin untuk memenuhi
kepuasan jasmani dan rohaninya saja. Ia akan merasa gelisah, marah
bahkan depresi jika tidak diberikan imbalan. Untuk menghindari sifat
riya' dan pamrih adalah sebisa mungkin kita harus bisa menyembunyikan
amalan tersebut. Mengerjakan semata-mata hanya mengharapkan ridho dari
Sang Pencipta dan ikhlas untuk berbuat kebaikan agar saling
menginspirasi. Jika kita terbiasa ikhlas melakukan kebaikan, hati kita
akan mudah tersentuh dan peka terhadap lingkungan serta akan terus
melakukan kebaikan tanpa mengharapkan imbalan.
4. Belajar Rendah Hati
Sebagai
manusia makhluk sosial, selayaknya kita tidak meninggikan hati kita
termasuk dengan suara dan perilaku kita terhadap orang lain. Hindari
kita menjadi pribadi yang egois merasa bahwa apa yang telah kita lakukan
itu paling benar. Sifat ini tentunya berdampak buruk bagi diri sendiri
yang akan membuat kita dijauhi oleh lingkungan dan banyak dibenci.
Sifat rendah hati bisa dimulai dari diri sendiri. Di antaranya adalah
menahan diri untuk tidak mencaci maki atau mengumpat, menghormati orang
lain baik yang lebih tua ataupun yang lebih muda, dan menahan untuk
tidak menceritakan kelebihan diri sendiri.
Seseorang yang sering mencaci maki orang lain baik saat mengobrol
santai atau kapan saja, akan tidak disukai oleh semua orang. Jangan pula
kita bersikap seenaknya sendiri tanpa menghormati orang lain itu akan
membuat kita menjadi pribadi yang sombong dan acuh terhadap lingkungan
atau biasa disebut sebagai unsocial. Hendaknya kita harus saling
menghormati dan bersikap sopan santun. Mungkin ini terlihat sepele
tetapi akan berdampak positif terhadap diri sendiri. Salah satunya
adalah kita akan lebih peka terhadap orang lain.
Jangan menghina dan jangan menyakiti orang lain kalau kita ingin menjadi seseorang yang memiliki kepekaan hati.
5. Berprasangka Baik
Sifat
ini sangat penting untuk diterapkan dalam kehidupan
sehari-hari.Prasangka Baik seperti energi yang mampu menciptakan
kekuatan dalam diri. Seperti saat ini, penulis sedang mencoba mencari
pekerjaan, prasangka yang baik akan mendapatkan pekerjaan sesuai dengan
passion harus ditanamkan dalam hati. Jangan ragu dan pesimis adalah
salah satu kuncinya agar kita bisa meraih kesuksesan. Jika ini terus
ditanamkan dalam hati maka semesta pun akan mendukung, ikut berdo'a, dan
pada akhirnya prasangka yang baik itu pun akan segera datang.
Prasangka baik seperti kita selalu berprasangka baik dan berbuat baik
terhadap sesama harus selalu ditanamkan. Namun apabila kita sudah
berprasangka baik dan berbuat baik namun orang lain justru berbuat
sebaliknya, kita perlu menanamkan sifat ikhlas dan sabar. Tidak perlu
kita berprasangka buruk terhadap orang lain karena berprasangka baik
akan memeberikan dampak positif untuk diri sendiri dan tidak akan
menimbulkan kekecewaan.
Prasangka baik juga termasuk harapan, doa bahkan obat. Biasanya bila
ada seseorang yang sedang sakit, orang itu selalu berkeluh kesah, tidak
sabar, dan seringkali berprasangka buruk kepada Sang Pencipta. Padahal
selain kita berobat pada ahlinya, kita juga harus selalu berprasangka
baik kepada Sang Pencipta bahwa sakit itu akan menghapus dosa-dosa kita
yang telah lalu dan kita akan diberikan kebahagiaan setelah kita lekas
sembuh.
Komentar
Posting Komentar